zonakropos

zonakropos
dekyjawa blog
Tampilkan postingan dengan label caknun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label caknun. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2015

Cak Nun: Agama Masyarakat Itu Sebenarnya Harus Telo, Bukan Gethuk atau Kripik


Rintik-rintik hujan yang membasahi bumi bekas kerajaan Mataram (baca: Yogyakarta) ini tak sedikitpun menghalangi semangat para Cak Nunian (pengagum Cak Nun dan Kiai Kanjeng), untuk sekedar memacu kuda mesinnya menuju Masjid Jami’ At-Taqwa Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, demi mendapatkan kehangatan bathiniyyah lantaran petuah-petuah Cak Nun dan juga tembang-tembang yang disenandungkan oleh Kiai Kanjeng yang memang memiliki sengatan listrik yang bisa membuat jiwa orang kesetrum(kena sengatan listrik).

Acara ini dihelat oleh Pengurus Ta’mir masjid Jami’ At-Taqwa, dengan mengangkat tema “Ashabul Kahfi Ada di Masjid Jami’ At-Taqwa: Istiqamah di Sahara Kehidupan Modern”. Jum’at, 29 Maret 2013, sekitar pukul 20.00 WIB, acara pun dibuka oleh MC yang membawakan acara secara semi formal. Setelah sambutan oleh ketua ta’mir masjid Jami’ At-Taqwa; Prof. Dr. Edi, juga oleh Bupati Sleman, acara dimeriahkan oleh penampilan Kiai Kanjeng dengan membawakan tembang perdana“Hasbunallah wa ni’mal wakil”. Para penonton yang terdiri dari segala macam usia -mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek, juga dari berbagai kalangan –akademisi, mahasiswa, petani, pejabat, dsb- yang memadati halaman luas masjid Jami’ At-Taqwa ini pun terlihat begitu menikmati dan menghayati alunan musik yang dibawakan Kia Kanjeng.

Setelah beberapa saat, tibalah sang Maestro yang telah ditunggu-tunggu, “Cak Nun”. Dengan mengenakan pakaian serba putih dari ujung atas sampai ujung bawah, Cak Nun mulai menyampaikan pesan-pesannya. Ia memulai dengan menyampaikan sebuah ilusrasi yang cukup menarik, tentang agama Islam dan golongan-golongan yang ada di dalamnya.

Cak Nun mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi masyarakat yang terkadang begitu fanatik terhadap golongan/aliran yang dianutnya, seperti NU, Muhammadiyah, Syi’ah, dsb. Sehingga dari kefanatikan itu memunculkan tindak kekerasan yang kerap terjadi sesama muslim. Kemudian Cak Nun pun mengilustrasikan agama Islam laksanaTelo (sejenis umbi-umbian) yang bisa menghasilkan berbagai aneka menu, sepertiGethukKripik, dsb. Nah, Telo diibaratkan sebagai agama Islam murni, dan Gethuk,Kripik diibaratkan aliran-aliran yang muncul dalam Islam. Nah, kebanyakan orang memang menganggap bahwa NU, Muhammadiyah, Syi’ah, dsb itu sebagai agama mereka, padahal sebenarnya semua sama-sama Islam. Itulah pentingnya menjunjung tinggi pluralisme.

Maka Cak Nun pun melontarkan pertanyaan kepada para pengunjung yang berdekatan dengan panggung, dengan berbahasa Jawa, “la seng agama iku lak seng Telone to bu’ nggeh, ora kok Gethuk lan Kripik iku? La wong saiki iki, seng sering nganggep agamane iku Gethuk lan Kripik iku, padahal asline kan Telo” (La yang agama itu kan yang Telo-nya kan bu’ ya, bukan kok Gethuk dan Kripik? La orang sekarang itu sering menganggap agamanya itu Gethuk dan Kripik itu, padahal aslinya kan Telo). Sontak para hadirin pun tertawa mendengar ilustrasi Cak Nun yang terkesan aneh, lucu namun sarat akan makna tersebut.

Tembang-tembang pun mengalir dari tangan-tangan para anggota Kiai Kanjeng, seperti syi’ir tanpa wathongelandangan, dsb, mengiringi jalannya pengajian yang selesai sekitar pukul 00:00 malam tersebut.

  

20 pesan selanjutnya

Selain menyampaikan tentang Telo, dkk tersebut, dengan kemasan bahasa Indonesia dan Jawa, dan dengan ciri khasnya yang terkesan slengek’an dan seperti ocehan ngawur namun sarat makna itu, Cak Nun juga menyampaikan beberapa pesan yang penting kepada para hadirin. Paling tidak ada 20 pesan yang berhasil ku rangkum. 

Pertama, Kita harus bisa memilih dan memilah, mana perkara yang harus kita masukkan dalam otak, hati, dan tangan itu. Jangan sampai salah tempat.

Kedua, Orang yang diinjak-injak dankere (miskin) itu terkadang lebih bermanfaat.

KetigaWong iku oleh duwur –pangkate, tapi gak oleh nduwuri wong(orang itu boleh saja berpangkat tinggi, tapi nggak boleh menganggap remeh orang). Sebuah kritik terhadap para pejabat-pejabat yang terkadang sering meremehkan dan menyepelekan orang yang ada di bawahnya.

Keempat, Manusia itu bukan makhluk permanen, artinya dia bisa baik dan kadang juga bisa buruk. Jadi, jangan khawatir jika kita dicap buruk oleh orang.

Kelima, Tawakkal bisa dimaknai secara sederhana seperti ini; “mengurusi hal yang bisa diurus, dan kalau ada hal yang nggak bisa diurus, pasrahkanlah kepada Allah”. Artinya, kita cukup mengurus perkara yang sudah konkrit dan ada di depan mata saja. Perihal perkara yang masih belum jelas dan masih abstrak, cukup pasrahkan saja urusannya pada Allah. Yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi hambaNya.

Keenam, Setiap orang itu punyafadhilah (keutamaan). Jadi jangan minderdengan diri sendiri.

Ketujuh, Orang itu selalu melihat yang tinggi, dan menganggap bahwa yang tinggi dan berada di atas, itulah yang terbaik dan mulia. Padahal bukan seperti itu, karena semua sudah ada porsi dan jatahnya masing-masing. Contohnya saja, burung bisa terbang tinggi ke atas itu ya karna memang sudah kodratnya dia bisa begitu. Karna kan dia punya sayap. Makanya keliatan pantas dan baik. La sekarang, coba bayangin bagaimana kalau ayam, harimau, yang emang kodratnya berjalan di bawah –daratan, tapi disuruh terbang? Lantaran asumsi yang beredar bahwa yang terbang tinggi dan di atas itu baik. Apa nggaktambah menyeramkan dan menghawatirkan tuh? Itu baru ayam sama harimau. Coba kalau badak sama gajah yang terbang? :D

Kedelapan, Wajah itu perwakilan dari seluruh diri kita. “sing ngentut silite, tapi sing diwudhu-ni wajahe” (yang kentut dubur-nya, tapi yang diwudhu-in wajahnya). Kenapa? Ya karna orang itu menilai dari wajah kita kan, dan nggak mungkin daridubur atau bagian anggota tubuh lain –selain wajah? :D

Kesembilan, Cahaya itu hanya terlihat di dalam kegelapan, bukan di tempat yang terang benderang. Artinya, ketika kita tidak masuk ke catatan ‘buku hitam’ yang penuh kegelapan dulu, mustahil kita akan tau dan mendapatkan penerangan (cahaya).

Kesepuluh, Pencipta lagu “syi’ir tanpa wathon” yang selama ini diklaim diciptakan oleh Gus Dur pun diluruskan oleh Cak Nun. Dikatakan bahwa sebenarnya yang menciptakan lagu itu adalah Kiai Sahlan dari Krian, Sidoarjo pada tahun 1950-an. Dan syi’ir itu muncul lantaran untuk menyaingi lagu ludruk yang sedang tenarwaktu itu. hal ini disampaikan, tepat sebelum Kiai Kanjeng beraksi dengan membawakan tembang syi’ir tanpa wathon.

Kesebelas, “Jawa ayo digawa, Arab digarap, Barat diruwat” (Budaya Jawa mari kita bawa, Arab dikerjakan, Barat dipelihara). Sebuah pesan yang singkat, padat, jelas dan sarat makna tentang pentingnya menjaga budaya daerah dan Nusantara, tanpa menolak mentah-mentah juga terhadap budaya asing yang masuk.“المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح”.

Keduabelas, perihal tema acara itu –Ashabul Kahfi, Cak Nun menyampaikan agar jangan sampai ada gua ashabul kahfilagi di zaman sekarang. Pemuda ashabul kahfi yang ditidurkan oleh Allah, itu merupakan gambaran para pemuda yang tetap kekeh menjaga imannya, lantaran khawatir akan terseret situasi modernitas yang ada di dunia. Makanya mereka memilih untuk menyendiri dalam gua yang kemudian ditidurkan oleh Allah selama 300 tahun, ditambah 6 tahun.

Ketigabelas, Sunan Kalijaga itu peranannya paling banyak adalah dalam hal peralihan perpolitikan (dari Majapahit-Demak-Pajang-Mataram). Hal ini disampaikan Cak Nun, ketika beliau menceritakan bahwa orang-orang terkadang ada yang nyeletuk, dengan mengatakan bahwa ia adalah jelma’an dari Sunan Kalijaga. J

Keempatbelas, Ibadah itu yangmahdhah (wajib, murni) hanya 3,5%, sisanya 96,5% itu adalah mu’amalah.

Kelimabelas, Makin dekat seseorang dengan seseorang yang lain, maka semakin tidak ada etika di antara keduanya.

Keenambelas, Pelurusan antara Al-Qur’an dan Mushaf. Al-Qur’an yang asli dan terjaga itu berada di lauh mahfudz. Sedangkan yang ada di hadapan kita sekarang itu adalah mushaf.

Ketujuhbelas, Bid’ah itu hanya ada dalam ibadah mahdhah saja, bukan pada ibadah mu’amalah. Hal ini disampaikan, ketika ada salah satu ibu-ibu yang menanyakan tentang bid’ah kepada Cak Nun.

Kedelapanbelas, Kebohongan itu terkadang penting, pada saat-saat tertentu saja.

Kesembilanbelas, Pilihan hidup itu ada tiga: ijtihad, ittiba’, atau taqlid. Kita pilih sesuai kapasitas diri kita.

Keduapuluh, Jangan sampai ada sesuatu apapun yang bisa menghalangi kedekatanmu dengan Allah.

Dokumentasi Acara

 Kiai Kanjeng ketika memulai penampilannya -sebelum Cak Nun masuk panggung

Cak Nun ketika baru masuk panngung, dan menyampaikan pesan-pesannya

Cak Nun ketika menyampaikan pesan-pesannya kepada para hadirin

Cak Nun dan Kiai Kanjeng ketika menyanyikan tembang 'syi'ir tanpa wathon'

Nah, itu tadi kurang lebih oleh-oleh dari Pengajian Akbar Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Niatnya sih, buat berbagi pengalaman saja. Silahkan disimpulkan sendiri, dan semoga bermanfaat

Sumber : http://nieza.blogspot.com

BELAJAR AGAMA KOK SAMA BUDAYAWAN CAKNUN..??

-

Banyak yang menyebutnya sebagai kyai mbeling. Dalam ceramahnya, Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun nggak jarang menggunakan kata-kata yang sangat rakyat jelata(ndasmu, asu, jancok, taek, dsb) dan nylekit. Yang tentu saja menyesuaikan dengan audience-nya saat itu (tidak di depan anak kecil atau semacamnya). Cak Nun sengaja begitu agar tidak dikultuskan, tidak ingin di-wali-wali-kan oleh jamaahnya. Kalau orang yang pikirannya linier, sempit, tidak paham kontek, nggk kenal beliau..pasti bakalan berpikiran negatif, mengkafir-kafirkan.

Pernah suatu kali saat diundang di sebuah sarasehan, Cak Nun menyebutkan bahwa kita ini sesat, ulama-ulamanya sesat, semuanya sesat. 
"Coba tunjukkan satu saja di Indonesia ini yang tidak sesat," kata Cak Nun saat itu.
Mereka yang tidak kenal dan tidak terbiasa dengan omongan Cak Nun, marah besar. Terutama mereka-mereka yang masih muda.

Kita memang masih sesat karena setiap kita sholat diwajibkan membaca ayat 'Ihdinash Shirathal Mustaqim' yang artinya tunjukilah kami jalan yang lurus. 
"Kalau sudah merasa lurus dan benar maka nggak usah ikut pengajian..di sini tempatnya orang sesat yang terus mencari kebenaran dan jalan yang lurus."

Cak Nun tidak ingin masyarakat umum mengenalnya sebagai kyai, haji, ustadz atau gelar-gelar semacam itu. Beliau sengaja mencopot gelar-gelar tersebut. Pernah suatu kali Cak Nun jadi seorang pembicara dalam acara seminar. Panitia membuat Spanduk penyambutan yang isinya kurang lebih : "Selamat datang KH Emha Ainun Nadjib...."
Cak Nun pun bercanda sama panitia-nya, "Mas kalau gelar saya Kyai Haji..terus gelarnya Rasullulah apa mas ..: Kanjeng sepuh Kyai Haji Panglima Besar Waliyullah Nabiullah blablablablablabla..Muhammmad SAW."

Dan kayaknya Cak Nun berhasil dengan cita-citanya itu. Kebanyakan orang menganggapnya sebagai tokoh budaya, penyair atau seniman. Ketika ada jamaahnya Cak Nun yang bicara pemikiran (bukan ajaran) Cak Nun tentang agama, mereka sinis : "Kok percaya sama omongannya penyair... belajar agama kok dari seorang budayawan..!"

Tongkrongannya pun biasa saja, tidak menampakan diri sebagai seorang kyai. 
"Agama itu letaknya di dapur, nggak perlu dipamerkan di warungnya...nggak masalah kamu masak di dapur pakai gas, kompor biasa atau apa pun yang penting yang kamu sajikan di ruang tamu adalah masakan yang menyenangkan semua orang..begitu juga dengan agama, nggak masalah agama apapun yang di anut yang penting output di masyarakat itu baik..jadi orang yang mengamankan, menentramkan, menolong saat dibutuhkan.."

Cak Nun adalah salah satu tokoh gerakan reformasi (yang tidak diakui negeri ini), melengserkan sekaligus guru ngajinya Presiden Soeharto. Yang membujuk Gus Dur untuk mau jadi presiden dan mengajaknya meninggalkan istana saat Gus Dur di-impeachment oleh MPR.
"Lapo sampeyan nang istana setan...ayo mulih nang istana malaikat..!" ajak Cak Nun pada Gus dur.
"Nang endi istana malaikat iku Cak..?" tanya Gus Dur.
"Yo nang Ciganjur (rumah Gus Dur)..!" jawab Cak Nun.
Setelah itu Gus Dur keluar istana cuman pakai kaos oblong dan celana kolor.

Saya rasa jarang ada orang yang begitu ikhlas, berani, cerdas, arif seperti beliau. Walaupun pendidikannya cuman sampai semester 1 fakultas Ekonomi UGM tapi otaknya melebihi seorang profesor. Profesor pun minder kalau disandingkan dengan Cak Nun. Karena beliau adalah berlian yang intelektualitasnya mumpuni.

Banyak sekali aktifitas Cak Nun demi keutuhan NKRI yang tak pernah diakui, ditulis dalam sejarah Indonesia. Dan sekarang beliau memutuskan untuk Out Of Box dari semua itu. Indonesia mengalami sakit kronis parah. Ilmu manusia pun nggak sanggup untuk menyembuhkan Indonesia.

Cak Nun pun tak lagi mau tampil di media nasional. Menyibukan diri dalam kegiatan pengajian, shalawatan dan semacamnya (Mocopat Syafaat, Juguran Syafaat, Kenduri Cinta, Bang Bang Wetan dan sebagainya).

Cak Nun tidak mengakui negara Indonesia. Beliau cuma seorang penduduk Indonesia saja.
"Saya tidak menganjurkan anda Golput...tapi kalau anda nggak Golput itu goblok..! Wis ngerti dike'i taek kok yo gelem ae...tiap lima tahun sekali dike'i taek kok yo ora kapok-kapok..! Terus anda masih penasaran : 'jangan-jangan ini lidah saya ya..? lho kok pahit..lho kok??'.."

Dalam setiap acara seminar, sarasehan atau apa pun namanya Cak Nun tidak pernah perduli soal honor. Dibayar atau tidak dibayar bagi Cak Nun tak masalah. Cak Nun mewanti-wanti pada manajemen yang ngurusi Cak Nun untuk tidak menyebutkan angka. "Berapa sih yang akan anda bayarkan pada saya??...dibayar berapapun nggak akan cukup!...Maka lebih baik tidak usah.
Bukannya saya hebat...tapi saya takut menyinggung perasaan Tuhan. Urusan Akhlak dan dagang harus dipisahkan. Jangan sampai akhlak dikapitalisasi."

Ustadz dibayar itu bukan karena transfer ilmunya tapi karena tenaganya, waktunya yang dikorbankan, akomodasinya dan seterusnya. Karena itu tidak selayaknya kalau ada Ustadz, Motivator, Guru Ngaji pasang tarif.

Cak Nun yang menyebarkan kebaikan, membuka pori-pori kecerdasan, mencerahkan, membesarkan hati para jamaahnya tanpa minta imbalan apa pun. Beliau selalu memposisikan sama dengan jamaahnya. Sama-sama belajar dan mencari kebenaran bersama.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Berikut ini cuplikan beberapa pituturnya tentang ketidakinginanya untuk dikultuskan :

"Awas kalau sami'na wa atho'na (kami dengar dan kami taat) sama saya....tak tonyo ndasmu..!
Karena di maiyah ini semua orang berposisi sama.
Di sini tidak ada kyai-nya, tidak ada imam-nya, tidak ada mursid-nya, tidak ada syekh-nya.
Biasanya khan sebuah perkumpulan pengajian atau tariqat ada 'ndas-ndasane' yang harus ditaati sama jamaahnya.

Yang harus anda taati hanya Rasullulah dan Allah..bukan saya...saya nggak mau..!
Soalnya kalau anda taat sama saya..Saat kamu nyolong..saya nggk bisa nolong kamu di akhirat. 
Hanya Allah dan syafaat Rasulullah yang bisa menolong kamu.

Kalau kamu taat sama saya..apa gunanya? 
Saya sendiri masih harus taat sama Rasullah dan Allah.
Di sini adalah majelis ilmu..mencari kebaikan bersama dan tujuanya bukan untuk menguasai Indonesia..tapi mencari kebenaran bersama.

Jangan hidup menurut Cak Nun. Hidup sekali kok menurut Cak Nun..menurut Cak Nun, menurut syekh ini, menurut ulama ini, menurut itu...gak kabeh!!
Hidup itu menurut Allah, menurut Rasullullah..titik!
Hidup sekali kok menurut ini, menurut itu.
Kalau hidup menurut Cak Nun, nanti saya diseret di pengadilan Gusti Allah :
"Wong iki jarene nglakoni ngene mergo awakmu Nun.."
Terus saya njawab, "lha salahe dewe..wong kulo cuma' ngomong kok.."

Kebenaran itu tidak pada siapapun. Kecuali pada keputusan terakhir anda masing-masing. Karena itu nanti yang dihisab oleh Allah. Anda boleh mendengar apa pun, boleh menafsirkan kayak apa pun, boleh melakukan apa pun setelah itu. Tapi sebenarnya yang dinilai adalah bahwa itu menjadi keputusan anda.

Jangan pernah punya keputusan yang tidak otentik pada diri anda masing-masing. Artinya kalau shalatmu itu ya shalat kamu dan Allah..itu otentik.
Bukan kamu plus Cak Nun, plus Kyai, plus Ustadz, plus Ulama dan Allah.

Sepanjang kebenaran itu anda ketahui terletak di situ 
maka seluruh forum apa pun tidak masalah. Karena anda dewasa, tidak gampang 'masuk angin' oleh kalimat kayak apa pun.

Jangan mau ditipu oleh siapapun yang menghadir-hadirkan Tuhan kepadamu. Yang menghalang-halangi hubunganmu dengan Allah. Jangan percaya kepada Emha Ainun Nadjib. Jangan percaya kepada Kyai, Ustadz atau siapapun. Itu hak pribadimu untuk menemukan Tuhanmu dengan gayamu dan caramu..!"

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Begitulah segelintir cerita tentang sang Guru Rakyat yang sebenarnya bisa berjilid-jilid kalau diceritakan secara detail. Begitu banyak kiprah beliau dalam mencerdaskan rakyat negeri ini dengan gerakan Maiyah-nya yang tujuannya tidak untuk menguasai Indonesia. Indonesia itu kecil, Indonesia adalah bagian dari kampung halamanku, begitu kata Cak Nun.

Dan Maiyah bukanlah sebuah sekte, aliran, madzhab dan sejenisnya. Maiyah adalah sebuah majelis ilmu, mencari kebenaran bersama untuk membentuk manusia Indonesia baru yang tangguh, berani, cerdas dan berwawasan luas (tambahi sendiri kalau kurang).

Sumber : http://www.kompasiana.com/robbigandamana/belajar-agama-kok-sama-budayawan-cak-nun_5535db5d6ea8340e34da42d0

PENGAJIAN ASSAJADAH BERSAMA CAK NUN

Catatan: Ega Julaeha

 

Malam itu, 30 Oktober 2010, terselenggara pengajian Assajadah yang merupakan acara rutin 3 (tiga) bulanan di Kandank Jurank Doank, dengan mengusung tema “Cerdaslah Nusantaraku” dan narasumber Emha Ainun Nadjib. Acara dimulai pukul 20.00 wib yang dibuka oleh si empunya rumah, Dik Doank. Acara dibuka dengan sajian beberapa tembang lagu yang dinyanyikan oleh Dik Doankfeaturing KJD Idol dan Kaleng Rombenk.

 

Menyikapi bencana alam Gunung Merapi, Dik Doank berpendapat bahwa yang disebut musibah itu bukan ketika saat gunung meletus, tapi saat pengungsi itu berada di pengungsian. Ini dikarenakan masyarakat tercerabut dari kenikmatannya berkegiatan di rumah mereka masing-masing. Tugas kita adalah mengurangi beban mereka di pengungsian.

Cak Nun dalam membuka tausyiahnya menyampaikan tentang hakekat terkenal. “Setiap orang punya tahapnya masing-masing, punya tarikatnya masing-masing, punya konteksnya masing-masing. Yang disebut teladan itu bukan pada wujudnya, tapi pada inti nilainya. Kalo ada orang makan jangan langsung ditiru makannya, kalau ada orang tidak makan jangan langsung ditiru tidak makannya, tapi dicari tahu kenapa dia makan atau tidak makan, sebab dia makan dan tidak makannya. Sehingga ketika meniru, itu bukan wujud makan dan tidak makan, melainkan terjemahan dari sebabnya/niatnya tadi terhadap keadaan kita”.

 

“Bagi saya, wanita cantik itu bukan keindahan lagi, tapi siksaan. Beda Dik Doank dan saya, jangan tiru saya. Jadi jangan dilihat outputnya saja, anda harus lihat juga inputnya. cari tahu dulu hulunya, jangan hilirnya saja, jadi kesimpulannya utuh”.

 

Hal itu disampaikan Cak Nun dalam kaitannya tentang keputusannya untuk tidak lagi muncul dalam media, baik media cetak maupun elektronik dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Karena menurutnya, kita tidak boleh lebih terkenal dari Allah dan Rasulullah. Kita harus mampu menanggalkan ketenaran, membocorkan kapal, untuk menghindar dari keangkuhan dan kesombongan yang bisa jadi menjerumuskan kita kepada dosa yang paling besar.Tentang popularitas, menurut Cak Nun popularitas itu efek, jangan jadi tujuan. Jadi kalaupun nanti jadi terkenal, harus dibarengi dengan rendah hati, sadari bahwa terkenal itu efek. Salah satu yang menghancurkan kehidupan manusia adalah kesombongan. dalam bahasa Al Quran gibria. gibria itu jubahKU. selain Allah jangan pake jubah itu.

 

Mengenai musibah, Cak Nun berpendapat bahwa kata musibah penerjemahan kedalam bahasa indonesia artinya agak meleset. musibah artinya kejadian, dalam bahasa indonesia artinya bencana. padahal bencana artinya Azab. Al assoba, artinya kejadian. Qurban jika dibahasa inggriskan artinya victim. Padahal dalam bahasa aslinya artinya dekat, Qarib. Qurban artinya segala sesuatu yang mendekatkan kita kepada Allah. nilai-nilai islam tidak begitu tumbuh di Indonesia karena salah satu sebabnya epistimologi kata-kata islam itu diterjemahkan secara serabutan.

 

Selanjutnya Cak Nun menyampaikan bahwa jihad bahasa indonesianya itu daya upaya, bahasa inggrisnya effort, doing something to get. Bekerja untuk anak istri itu jihad, segala daya upaya. Kalo jihadnya menggunakan pikiran dan intelektual disebut ijtihad, itu suatu pola. kalo mujahadah itu jihad dengan konsentrasi rohaniah. Ada akal itu ijtihad, ada hati itu mujahaddah, dan syahwat, itu api jihadnya. Syahwat itu segala sesuatu yang merupakan energi yang mendorong seseorang untuk mencapai dalam memperjuangkan sesuatu. Maka syahwat harus dikendalikan oleh regulasi akal sehat. tapi seluruhnya berasal dan dikontrol oleh Qalbu. Maka di dalam qaLbu itu harus ada iman, karena kita tidak mampu mengontrol diri kita sendiri maka kita butuh bantuan Allah. Allah membantu dengan mengirimkan iman ke dalam diri kita. Itulah yang disebut manajemen qalbu. Dalam jalannya acara, ada jamaah yang bertanya tentang kenapa di dalam Al Quran Allah sering menggunakan kata AKU dan KAMI. Cak Nun menjawab bahwa Allah punya malaikat-malaikat yang membantuNYA. Malik itu artinya raja, Muluk itu artinya kekuasaan. malaikat artinya aparat kekuasaan. malaikat itu jumlahnya bermilyar2 jenis. Jadi KAMI di sini adalah representasi Allah dan Malaikat-malaikatnya.

 

Dalam menjawab pertanyaan jamaah tentang kenapa manusia itu tidak tahu tentang masa depannya, manusia punyai batasan, Cak Nun berpendapat bahwa justru disitulah asyiknya hidup. Kita manusia tidak diberi pengetahuan oleh Allah melainkan hanya sedikit. Oleh karena itu kita akan terus menerus mempelajari. Kita diberi akal pikiran untuk terus membaca alam semestaNYA. Maka janganlah terburu-buru menilai sesuatu itu syirik atau tahayul.

 

“Nikmatnya hidup itu karena ada batasan, kita tidak tahu isi hati istri kita, sampai dengan sekarang, karena itu kita akan terus memberikan yang terbaik, karena kita tidak tahu. Tidak tahu itu nikmat, aurat itu diperlukan, makanya yang baik itu berpakaian, butuh pakaian supaya orang tahu, pengetahuannya hanya terbatas pada fantasinya. Fantasi tidak bisa disalahkan. Allah dalam hal ini tidak adil. Kebaikan, niat saja sudah dapat pahala. Berbeda dengan keburukan, keburukan jika dilakukan baru dapet sanksi, baru niat tidak apa-apa. Maka bertahanlah pada niat buruk, tapi jangan dilakukan. Jangan berani buka aurat, karena kita berhak berfantasi dan tidak disalahkan Allah. Itu gunanya kita menutupi tubuh dengan pakaian. Diberi ilmu oleh allah sebatas yg bermanfaat untuk anda.”

 

“Ada Ilmul yakin, haqul yakin, ainul yakin. ilmul Yakin itu adalah anda meyakini sesuatu karena logika dan penyerapan kecerdasan anda. Anda mendapat informasi dan percaya kepada kredibilitas informasi itu. Tapi itu harus dikembangkan, jangan berhenti pada informasi itu saja. Misalnya, tentang benua Amerika, siapa yg menemukan amerika, benarkah yang menemukannya itu yang kita kenal dengan nama Colombus? menurut siapa? terus menerus bertanya sampai anda yakin terhadap kredibilitas informasi itu.”

 

Cak Nun selanjutnya menyampaikan bahwa semakin tinggi dan semakin kaya suatu bahasa semakin tua peradabannya. Menurutnya, sehebat-hebatnya bahasa Inggris, lebih hebat bahasa Indonesia, khususnya bahasa Jawa. Misal, untuk kata bau, dalam bahasa inggris hanya kita temukan kata smell, untuk mendeskribsikan sesuatu yang bau dalam makna negatif, dikenal kata bed smell. Dalam bahasa Jawa, kita temui banyaknya varian kata, seperti: bau kencing itu pesing, bau kelek itu kecut, bau darah itu anyir, bau baju yang tidak dicuci itu apek, bau ikan itu amis, bau kambing itu prengus, bau bangkai itu badek. Hal ini disampaikan dengan maksud untuk menumbuhkan kepercayaan diri kita sebagai bangsa Indonesia, bahwa kita bangsa yang besar. Agar pengetahuan ini menjadi energi kita, tidak bermaksud menggede-gedekan.

Yang menarik, di tengah jalannya acara, ada seorang jamaah yang mempertanyakan pendapat Cak Nun tentang konflik agama yang sering terjadi dan mengenai pernikahan beda agama. Menurut Cak Nun, konflik antar agama, manusia bertengkar sebetulnya karena pada dasarnya manusia tidak mendapatkan kepuasan atas hak-haknya, outputnya adalah mudah bertengkar, dan yang paling mudah menyulut pertengkaran itu adalah perbedaan agama. Tapi bukan agamanya yang salah, bukan agama penyebabnya, tapi karena tidak puasnya manusia yang menyebabkan mudah bertengkar, adanya ketidakadilan sosial.

 

Mengenai pernikahan beda agama, Cak Nun berpendapat bahwa setiap agama punya syariat yang jelas, aturannya jelas. “Dalam Islam, wanita muslim menikah dengan pria muslim. Tapi kalau misalkan ingin menikah dengan beda agama ya silahkan, tapi jangan bawa-bawa Tuhan. Keluar dari Islam juga tidak masalah, karena Islam tidak merugi sedikitpun.”

 

“Yang punya hak atas diri seseorang itu adalah Allah sang pencipta dan dirinya sendiri, seperti hukum perusahaan, yang bisa mengambil keputusan adalah si pemilik saham. Yang punya saham atas hidup seseorang itu adalah tuhan dan diri kamu sendiri.”

 

Ada salah satu jamaah yang mencoba kritis kepada Cak Nun, mengapa Cak Nun tidak konsisten terhadap apa yang dia sampaikan mengenai process orientieddan result orientied. Cak Nun mencoba menjelaskan bahwa sebisa mungkin apa yang kita lakukan itu berorientasi pada proses, hasil itu letaknya di belakang, itu bukan kewenangan manusia. Yang menjadi salah kaprah adalah, walaupun kita berorientasi pada proses, bukan berarti kita menolak hasil. Hasil itu efek, dan mengikuti dari seberapa besar proses yang telah kita lakukan. Tapi jangan hasil sebagai tujuan. Cak Nun mencontohkan dengan analogi “masa ketika kita disuruh Allah masuk surga kita tidak mau”.

 

“Goyah itu hasil, kalo wassilah itu proses, cara untuk mencapainya. sholat itu tujuan atau cara? ya cara ya tujuan. Anda menanam padi ya hasilnya panen padi, tapi kalau tidak berhasil panen juga ya harus siap. Ikhlas dengan prosesnya, jangan berorientasi pada hasil, maka hasil yang baik akan mengikuti. Yang saya paling ingat adalah ketika Cak Nun dengan lugas mengatakan bahwa beliau kesini bukan untuk ceramah, tapi untuk merangsang cara berfikir anda. Jangan ditelan mentah-mentah setiap apa yang telah beliau sampaikan. Berfikirlah untuk menangkap setiap maksudnya dengan tepat. Analoginya seperti “sudah dikasih buah duren, untuk dapat menikmatinya, ya harus buka/belah sendiri buah duren itu, lalu menikmati buahnya sesuka hatimu”.**(Doc Foto: Agus Setiawan)

Sumber: facebook